Letkol Inf. Bambang Prasetyo Prabujaya: Bukan Sekadar Bangunan, 59 Koperasi Merah Putih Siap Jadi Penggerak Ekonomi Desa

  • Whatsapp

Jagadmedia.com, BANJARBARU – Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru mulai memasuki babak baru. Sebanyak 59 koperasi kini telah rampung dibangun dan bersiap beralih dari tahap konstruksi menuju operasional.

Capaian tersebut disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 1006/Banjar Letkol Inf. Bambang Prasetyo Prabujaya dalam silaturahmi dan diskusi bersama insan pers di Banjarbaru, Kamis (13/8/2026) sore.

Dari 64 lahan yang saat ini dinyatakan siap dibangun, sebanyak 59 titik telah selesai. Angka itu sekaligus melampaui target awal Kodim 1006/Banjar yang sebelumnya menetapkan penyelesaian pembangunan 55 titik.

“Secara keseluruhan potensi target kita ada 310 titik, namun lahan yang siap hingga saat ini ada 64 titik. Dari jumlah tersebut, alhamdulillah 59 titik sudah selesai dibangun. Ini pencapaian yang bagus karena melampaui target awal Kodim sebesar 55 titik,” ujar Bambang.

Namun, menurut Bambang, keberhasilan program KDMP tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang berdiri. Tantangan berikutnya justru memastikan koperasi mampu berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Saat ini, 59 koperasi tersebut mulai memasuki tahap pemenuhan sarana pendukung. Peralatan operasional seperti kendaraan, sepeda motor roda tiga, pendingin ruangan hingga perangkat kasir digital dikirim secara bertahap dari Pulau Jawa.

Dari total koperasi yang selesai dibangun, 51 titik berada di Kabupaten Banjar dan delapan titik lainnya berada di Kota Banjarbaru.

Bambang menyebut sejumlah koperasi diperkirakan sudah dapat mulai beroperasi dalam satu hingga dua bulan ke depan, setelah fasilitas pendukung dan sistem pengelolaannya siap.

Pada masa awal operasional, koperasi akan dikelola oleh manajer profesional yang ditunjuk. Setelah sistem berjalan stabil, pengelolaan secara bertahap akan diserahkan kepada masyarakat desa.

“Untuk mengoperasikan sistem kasir digital dan manajemen ritel butuh pelatihan. Begitu sistemnya running dengan bagus, baru kita serahkan ke desa secara bertahap,” jelasnya.

Lebih jauh, Bambang menegaskan KDMP dirancang bukan untuk sekadar menjadi tempat transaksi jual beli. Program ini diharapkan mampu memotong panjangnya rantai distribusi kebutuhan pokok yang selama ini ikut memengaruhi harga barang di masyarakat.

Melalui koperasi desa, distribusi komoditas seperti beras, gula, minyak goreng hingga LPG diharapkan bisa lebih pendek, sehingga masyarakat memperoleh barang dengan harga yang lebih wajar.

“Tujuan pemerintah adalah memotong rantai pasok agar lebih pendek. Kita ingin masyarakat kelas bawah, khususnya di daerah terpencil seperti Sungai Pinang, Aranio, dan Pengaron, mendapatkan harga barang yang wajar dan pantas,” katanya.

Keberadaan koperasi juga dipastikan tidak diarahkan untuk mematikan warung-warung kecil milik masyarakat. Justru KDMP diharapkan dapat menjadi pemasok bagi pelaku usaha lokal, sehingga warung kelontong tetap bisa berjualan dengan mendapatkan barang dagangan pada harga modal yang lebih kompetitif.

Percepatan pembangunan 59 titik koperasi tersebut berlangsung di tengah berbagai tantangan geografis. Sejumlah lokasi berada di wilayah dengan akses terbatas, termasuk kawasan rawa dan daerah yang berdekatan dengan hutan lindung.

Kondisi jalan, keterbatasan tenaga tukang serta sulitnya mobilisasi material menjadi kendala yang harus dihadapi di lapangan.

Untuk wilayah dengan karakteristik lahan rawa, pemerintah pusat juga tengah menyiapkan Detail Engineering Design (DED) sebagai bagian dari dukungan teknis pembangunan, termasuk untuk kawasan Gambut dan Aluh-Aluh.

Bambang sekaligus meluruskan isu mengenai lahan yang digunakan untuk pembangunan KDMP. Ia memastikan pembangunan tidak dilakukan dengan mengambil alih tanah milik pribadi maupun swasta.

Menurutnya, lahan yang digunakan merupakan aset pemerintah daerah melalui mekanisme pinjam pakai. Sementara mekanisme biaya sewa mengikuti regulasi Kementerian Keuangan dengan nilai seminimal mungkin dan bahkan dapat mencapai Rp0, sehingga tidak membebani operasional koperasi.

Ke depan, fungsi KDMP juga diproyeksikan tidak berhenti pada perdagangan kebutuhan pokok. Koperasi desa dirancang berkembang menjadi pusat layanan masyarakat dengan kemungkinan integrasi layanan kesehatan.

Gerai apotek hingga klinik desa menjadi bagian dari rencana pengembangan, terutama untuk wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses fasilitas kesehatan.

Dengan konsep tersebut, KDMP diharapkan tumbuh menjadi lebih dari sekadar bangunan baru di tengah desa. Koperasi ini diproyeksikan menjadi simpul ekonomi sekaligus pusat pelayanan yang mampu mendekatkan kebutuhan pokok, membuka peluang usaha, dan secara bertahap memperkuat kemandirian masyarakat desa.

Dengan 59 bangunan yang telah rampung, pekerjaan berikutnya kini bukan lagi sekadar mengejar target pembangunan fisik, tetapi memastikan koperasi benar-benar hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pos terkait