Relawan Pancasila Didorong Jadi Penggerak Kebajikan di Tengah Masyarakat

  • Whatsapp

Jagadmedia.com, BANJARBARU – Pancasila dinilai akan semakin bermakna ketika nilai-nilainya tidak berhenti pada ruang diskusi, tetapi diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata di tengah masyarakat.

Semangat itulah yang menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Anggota DPR RI Komisi XIII, H Muhammad Rofiqi, di Ballroom Hotel Rhodita Banjarbaru, Selasa (25/8/2026) pagi.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menempatkan relawan sebagai peserta yang menerima pemahaman tentang ideologi Pancasila. Lebih dari itu, mereka didorong menjadi penggerak yang mampu menghadirkan nilai-nilai kebangsaan melalui berbagai tindakan sederhana di lingkungan masing-masing.

Anggota DPR RI H Muhammad Rofiqi mengatakan, tantangan dalam mengamalkan Pancasila saat ini bukan lagi sebatas memahami atau menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari perilaku masyarakat.

“Pancasila harus kita hadirkan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai gerakan kebajikan,” tegas Rofiqi.

Menurutnya, nilai persatuan, kemanusiaan, gotong royong, musyawarah dan keadilan harus mampu menjawab berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Karena itu, ia berharap para relawan tidak menunggu hadirnya program besar untuk mengamalkan Pancasila. Kepedulian terhadap sesama, menjaga kerukunan, membantu masyarakat yang membutuhkan, menyelesaikan persoalan melalui dialog serta membangun semangat gotong royong merupakan bentuk sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.

“Nilai tanpa tindakan akan menjadi slogan, sementara tindakan tanpa nilai dapat kehilangan arah. Karena itu, mari satukan nilai-nilai Pancasila dengan aksi kebajikan. Dari masyarakat, bersama masyarakat, untuk Indonesia,” ujarnya.

Rofiqi menambahkan, DPR RI juga memiliki peran dalam memperkuat kesadaran masyarakat. Sebagai Anggota DPR RI Komisi XIII, ia menyebut penguatan tersebut berkaitan dengan kesadaran hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kehidupan demokratis, ketahanan sosial, persatuan bangsa hingga peningkatan partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara.

“DPR RI tidak hanya membuat kebijakan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menyerap aspirasi dan membangun kesadaran masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP, Drs. Yakob KM, menilai praktik Pancasila justru paling mudah terlihat ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama.

Ia menekankan pentingnya membangun persatuan dan gotong royong dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga. Menurutnya, kehidupan yang rukun, aman, damai dan sejahtera merupakan bagian dari wujud nyata pengamalan Pancasila.

“Bersatu dan gotong royong harus ada dalam aktivitas kita,” ujar Yakob.

Ia mengingatkan bahwa perbedaan kepentingan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, setiap persoalan semestinya diselesaikan melalui komunikasi, diskusi dan musyawarah, bukan dengan memperbesar perbedaan.

“Kalau ada masalah, diselesaikan, didiskusikan. Yang bisa menyelesaikan masalah adalah kita bersama,” katanya.

Yakob juga menegaskan pentingnya budaya musyawarah sebagai bagian dari pengamalan sila keempat Pancasila. Setiap keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, menurutnya, perlu dibangun melalui proses pembahasan dan pertimbangan yang matang.

“Keputusan yang kita ambil adalah berdasarkan hasil musyawarah. Makanya sila keempat menginginkan kita untuk selalu bermusyawarah,” jelasnya.

Selain kehidupan sosial, ia turut mengingatkan masyarakat agar menggunakan hak politik secara bertanggung jawab dalam proses demokrasi. Pilihan politik yang diberikan masyarakat, pada akhirnya, menjadi bagian dari proses menentukan pemimpin yang memiliki kewajiban melayani kepentingan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Gerakan Kebajikan Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai forum pembelajaran ideologi. Para relawan diharapkan mampu menjadi simpul kebajikan di lingkungannya masing-masing.

Dari lingkungan keluarga, tetangga hingga komunitas, nilai Pancasila diharapkan tumbuh melalui kebiasaan saling membantu, menjaga persatuan, bergotong royong dan mengutamakan musyawarah ketika menghadapi persoalan.

Dengan cara itu, Pancasila tidak hanya hadir dalam pidato maupun dokumen kenegaraan, tetapi dapat dirasakan masyarakat melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pos terkait