Jagatmedia.com, BANJAR – Kekhawatiran terhadap penyebaran demam berdarah dengue (DBD) mulai dirasakan warga Desa Surian Hanyar, Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar. Hingga Kamis (24/9/2026), tercatat sudah enam warga Desa Surian Hanyar yang terkena DBD.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Desa Surian Hanyar bersama UPT Puskesmas Cintapuri Darussalam. Tak ingin kasus terus bertambah, pemerintah desa bersama petugas kesehatan langsung bergerak melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan permukiman warga.
Kegiatan tersebut menyasar rumah-rumah warga, khususnya tempat penampungan air yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya jentik nyamuk.
Petugas bersama pemerintah desa menaburkan bubuk abate pada sejumlah tempat penampungan air yang sulit dikuras secara rutin. Langkah ini dilakukan untuk membantu memutus siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
Pambakal Desa Surian Hanyar, H. Birhansyah, mengatakan munculnya enam kasus DBD menjadi perhatian serius pemerintah desa. Karena itu, pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh petugas kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat.
“Dengan sudah adanya enam warga yang terkena DBD, tentunya ini menjadi perhatian kita bersama. Yang paling penting sekarang bagaimana kita mencegah agar kasus ini tidak bertambah,” ujarnya.
Menurutnya, kebersihan lingkungan rumah menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Warga diminta tidak membiarkan tempat penampungan maupun genangan air menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.
“Pemerintah desa tidak bisa bekerja sendiri. Kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Jangan sampai ada tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, pemerintah desa bersama tenaga kesehatan juga memeriksa sejumlah tempat yang berpotensi menampung air, seperti bak mandi, toren, maupun wadah lainnya.
Kegiatan PSN turut melibatkan Bhabinkamtibmas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta seluruh Ketua RT di Desa Surian Hanyar. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat pengawasan lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran warga.
Salah seorang warga, Udin, mengaku mendukung langkah yang dilakukan pemerintah desa dan petugas kesehatan. Menurutnya, adanya warga yang terserang DBD menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak menganggap sepele kebersihan lingkungan.
“Kami tentu mendukung. Dengan adanya warga yang terkena DBD, kami jadi lebih waspada. Kadang kita tidak sadar ada air yang tergenang dan ternyata bisa menjadi tempat jentik nyamuk,” katanya.
Udin berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan ketika kasus DBD meningkat, tetapi dapat menjadi kegiatan rutin di lingkungan desa.
Hal senada disampaikan Yanti. Ia mengaku khawatir jika kasus DBD kembali bertambah, terlebih penyakit tersebut dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak.
“Semoga setelah dilakukan pemberantasan sarang nyamuk ini tidak ada lagi warga yang terkena DBD. Kami juga akan lebih memperhatikan kebersihan tempat air dan lingkungan di rumah,” tuturnya.
Bubuk abate yang digunakan mengandung bahan aktif temefos 1 persen yang berfungsi sebagai larvasida. Bahan tersebut digunakan untuk membantu membunuh jentik dan larva nyamuk di dalam air sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Penggunaan abate terutama ditujukan pada tempat penampungan air yang sulit dikuras secara rutin. Penggunaannya tetap harus mengikuti petunjuk dan dosis yang dianjurkan.
Selain pemberian abate, masyarakat juga diimbau tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri dengan menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menampung air, serta menghilangkan genangan di sekitar rumah.
Bagi Pemdes Surian Hanyar, enam kasus DBD yang terjadi menjadi peringatan agar seluruh pihak tidak lengah. Upaya pencegahan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus dilakukan secara bersama-sama.
Sebab, di balik gerakan sederhana membersihkan tempat air dan menaburkan abate, ada harapan agar tidak ada lagi keluarga di Desa Surian Hanyar yang harus menghadapi kekhawatiran akibat DBD.
Dengan keterlibatan pemerintah desa, tenaga kesehatan, aparat, perangkat desa, hingga masyarakat, Surian Hanyar diharapkan tetap menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan aman bagi seluruh warganya.









