Dorong Anak Muda Difabel Berdaya di Ruang Digital, Aisyiyah Banjar Gelar Pelatihan Content Creator

Jagadmedia.com, BANJAR – Perkembangan media sosial yang semakin pesat membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya, termasuk anak muda difabel. Melalui konten berupa tulisan, foto, video hingga podcast, ruang digital kini dapat menjadi sarana untuk berekspresi, mengedukasi sekaligus membangun kepercayaan diri.

Semangat itulah yang diwujudkan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Banjar melalui Program Inklusi dengan menggelar Pelatihan Content Creator bagi Anak Muda Difabel di Aula Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Puteri Muhammadiyah Martapura, Sabtu (19/9/2026) pagi.

Kegiatan tersebut diikuti belasan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga orang tua. Para peserta tampak antusias mengikuti materi dan praktik yang diberikan oleh narasumber dari Yayasan Hasnur Center Banjarmasin.

Ketua PDA Kabupaten Banjar, Hj. Nadiyah MH, dalam sambutannya mengatakan, dunia digital saat ini merupakan ruang tanpa batas. Melalui sebuah konten, seseorang dapat menyampaikan suara, karya dan cerita kepada masyarakat luas.

“Dunia digital hari ini adalah dunia yang tanpa batas. Di ruang digital, suara, karya dan cerita kita memiliki kekuatan yang sama untuk didengar oleh jutaan orang lewat sebuah konten, baik itu berupa tulisan, video, foto maupun podcast,” ujarnya.

Menurut Nadiyah, konten digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk mengedukasi, menginspirasi bahkan mengubah cara pandang masyarakat.

Karena itu, Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan, kata dia, memiliki komitmen untuk memastikan ruang digital dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua orang tanpa terkecuali.

“Kami percaya bahwa keterbatasan fisik atau sensorik bukanlah penghalang untuk menjadi produktif, kreatif dan berdaya,” tegasnya.

Ia juga memberikan semangat kepada para peserta agar tidak melihat kondisi disabilitas sebagai batas dalam mengembangkan potensi.

“Para peserta hari ini, kalian anak muda difabel. Kalian punya potensi luar biasa dan inspirasi yang sangat ditunggu oleh dunia luar,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diajarkan membuat konten yang menarik maupun menggunakan media sosial. Lebih jauh, kegiatan itu diharapkan menjadi ruang untuk menyuarakan inklusivitas, mendobrak stigma dan menunjukkan bahwa anak muda difabel mampu menjadi bagian dari penggerak di ruang digital.

“Jadikan pelatihan ini sebagai ruang untuk belajar. Galilah ilmu sebanyak-banyaknya dari para narasumber, perluas jaringan dan temukan ciri kalian dalam berkarya. Dunia digital membutuhkan cerita hebat kalian. Bersuaralah, berkaryalah dan warnai media sosial dengan konten-konten yang inklusif dan menginspirasi,” pesannya.

Nadiyah juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dan Tim Program Inklusi Aisyiyah Banjar yang telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Koordinator Tim Inklusi Pimpinan Aisyiyah Banjar, Naimah, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan penyandang disabilitas, khususnya generasi muda, agar memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan di tengah pesatnya dunia digital.

Menurutnya, penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai tantangan ketika hendak memasuki dunia kerja formal. Karena itu, pihaknya berupaya mencari alternatif pemberdayaan yang sesuai dengan minat dan bakat peserta.

“Tujuannya untuk memberdayakan disabilitas, khususnya anak muda. Karena bagi mereka, untuk masuk ke dunia kerja formal itu syaratnya cukup berat,” jelas Naimah.

Ia mengatakan, ketika pihaknya berupaya menyalurkan penyandang disabilitas ke dunia kerja, masih terdapat perusahaan yang memiliki kriteria tertentu dalam menerima pekerja difabel. Padahal, ragam disabilitas sangat beragam, mulai dari fisik, rungu hingga grahita.

“Kami berdayakan minat dan bakat mereka melalui pelatihan hingga magang,” katanya.

Naimah menilai, sebagian anak muda difabel sebenarnya sudah cukup akrab dengan media sosial, termasuk TikTok. Namun, penggunaannya masih lebih banyak untuk konsumsi pribadi dan belum diarahkan menjadi keterampilan yang produktif.

“Mereka ini sebenarnya sudah mulai mengakses media sosial dan punya akun TikTok. Tapi kualitas kontennya belum terarah. Lewat pelatihan ini, kami salurkan potensi mereka agar bisa berkembang menjadi pembuat konten yang profesional,” ujarnya.

Menurutnya, dunia digital tidak mengenal batasan kondisi fisik seseorang. Karena itu, penyandang disabilitas juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan eksistensinya.

Selain keterampilan teknis, Naimah menekankan pentingnya etika dan moral dalam menggunakan media sosial. Peserta diharapkan mampu memanfaatkan kemampuan digital secara bijak dan tidak terjebak dalam penyebaran informasi palsu.

“Harapan kami, peserta bisa mempraktikkan ilmu yang dipelajari, terus berlatih, dan yang paling penting tetap beretika dan bermoral. Jangan sampai terjebak hal-hal manipulatif atau menyebarkan hoaks,” tuturnya.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan tersebut nantinya tidak hanya menjadi kemampuan baru, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi para peserta.

Sementara itu, narasumber dari Yayasan Hasnur Center Banjarmasin, Ani Nuraini, menjelaskan bahwa materi pelatihan dirancang mulai dari tingkat dasar agar mudah dipahami oleh peserta dengan beragam latar belakang.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan dunia content creator, cara mengenali minat dan potensi diri, hingga teknik dasar pengambilan foto dan video menggunakan smartphone.

“Materi yang diberikan berkaitan dengan dasar-dasar menjadi content creator, cara mengenali minat dan potensi setiap individu, hingga teknik pengambilan foto dan video yang baik hanya dengan menggunakan smartphone,” jelas Ani.

Peserta juga diperkenalkan dengan teknik storytelling, sehingga konten yang dibuat tidak hanya memiliki tampilan menarik, tetapi juga mampu menyampaikan cerita dan pesan kepada penonton.

Pelatihan berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi, tetapi juga dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempraktikkan langsung ilmu yang telah diperoleh.

Hasilnya, masing-masing kelompok berhasil membuat satu karya konten dalam bentuk video.

Ani melihat potensi penyandang disabilitas di bidang kreatif digital cukup beragam. Setiap peserta memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda dalam menyampaikan sebuah cerita.

“Mereka memiliki keunikan masing-masing. Poin utamanya adalah jika mereka konsisten, maka peluang di dunia content creation ini sangat bisa dicapai dan diraih,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan juga melibatkan peserta teman tuli. Tantangan komunikasi dapat diatasi dengan adanya fasilitator yang membantu proses interaksi dan penyampaian materi.

Dengan dukungan tersebut, seluruh peserta tetap dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Ani berharap pelatihan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Peserta didorong untuk terus mempraktikkan kemampuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini sejalan dengan fokus Yayasan Hasnur Center dalam membangun sumber daya manusia. Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Aisyiyah Muhammadiyah Martapura untuk mewujudkan program ini,” pungkasnya.

Melalui pelatihan tersebut, PDA Banjar berharap semakin banyak anak muda difabel yang berani menunjukkan potensi, berkarya dan mengambil peran di ruang digital. Bukan sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi mampu menjadi kreator yang menghadirkan konten positif, inklusif dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Pos terkait