Jejak Ilmu KH Sya’rani Arief Terus Dikenang, Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-58 di Martapura

Jagadmedia.com, BANJAR – Nama KH Muhammad Sya’rani Arief menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah keilmuan Islam di Kalimantan Selatan. Sosok ulama ahli hadis dan tafsir yang pernah mengasuh Pondok Pesantren Darussalam Martapura itu kembali dikenang melalui peringatan haul ke-58 yang dihadiri ribuan jemaah, Senin (26/10/2026) malam.

Bukan hanya masyarakat Kabupaten Banjar, jemaah dari berbagai daerah juga berdatangan ke Kubah KH Sya’rani Arief di Kampung Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap ulama yang telah mewariskan ilmu dan keteladanan bagi umat.

Nuansa religius semakin terasa saat Maulid Diba’ dilantunkan dengan dipimpin Habib Abdullah bin Ali Al Athas asal Bekasi, Jakarta. Gema selawat berpadu dengan suasana kebersamaan ribuan jemaah yang memadati kawasan kubah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Banjar H Saidi Mansyur, para habaib, tokoh agama, serta guru-guru agama dari Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Bupati Banjar H Saidi Mansyur menilai, perjuangan KH Sya’rani Arief dalam mengembangkan pendidikan Islam merupakan warisan berharga yang patut terus dijaga.

Menurutnya, pengabdian seorang ulama tidak berhenti ketika beliau wafat. Ilmu yang diajarkan, santri yang dididik, serta nilai-nilai keagamaan yang diwariskan akan terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

“KH Sya’rani Arief merupakan sosok ulama yang memiliki jasa besar dalam perkembangan pendidikan dan dakwah Islam di Kabupaten Banjar. Perjuangan beliau menjadi teladan bagi kita semua, terutama dalam membangun generasi yang berilmu dan memiliki akhlak mulia,” ungkap Saidi.

Ia berharap, peringatan haul tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan para ulama.

“Generasi muda harus mengetahui bagaimana perjuangan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada masyarakat. Semangat itulah yang perlu kita lanjutkan agar ilmu agama terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kehidupan umat,” tambahnya.

KH Muhammad Sya’rani Arief, yang juga dikenal sebagai KH Anang Sya’rani Arief Al-Banjari, merupakan ulama besar Nusantara dengan keahlian khusus dalam bidang hadis dan tafsir. Gelar Muhaddits wal Mufassir melekat pada sosok beliau karena kedalaman ilmunya di dua bidang tersebut.

Lahir pada 1914 di Kampung Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, beliau merupakan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan.

Perjalanan panjang menuntut ilmu membawanya ke Makkah pada 1930. Selama 22 tahun bermukim di Tanah Suci, beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka dan bahkan dipercaya mengajar di Masjidil Haram.

Sepulang ke Martapura, KH Sya’rani Arief melanjutkan pengabdiannya melalui dunia pendidikan dan dakwah. Beliau kemudian dipercaya menjadi pengasuh kelima Pondok Pesantren Darussalam Martapura, salah satu lembaga pendidikan Islam bersejarah di Kalimantan Selatan.

Di antara santri yang pernah menimba ilmu kepada beliau adalah Syekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari atau Abah Guru Sekumpul, yang kemudian dikenal luas sebagai salah satu ulama kharismatik di Kalimantan Selatan.

Selain mendidik santri, beliau juga meninggalkan karya tulis keagamaan, di antaranya kitab Thanwirut Thulab dan Hidayatuz Zaman. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari jejak intelektual yang memperlihatkan besarnya perhatian beliau terhadap pengembangan ilmu agama.

KH Sya’rani Arief wafat pada 17 Juni 1969, bertepatan dengan 14 Jumadilawal, dalam usia 55 tahun. Meski telah puluhan tahun berpulang, nama dan pengabdiannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Rangkaian haul pada Senin malam ditutup dengan zikir, nasyid, dan doa bersama. Adapun puncak peringatan haul ke-58 KH Sya’rani Arief dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10/2026) malam.

Pos terkait